Bahaya Steroid Pada Krim Kecantikan

Beberapa waktu lalu banyak diberitakan mengenai krim-krim kecantikan yang mengandung bahan kimia berbahaya. Bahkan artis Syahrini pun terkena imbas pemberitaan ini akibat namanya dicatut sebagai merk oleh produsen krim abal-abal. Krim-krim berbahaya tersebut umumnya dijual dengan harga sangat murah melalui jejaring sosial. Namun, bukan hanya krim abal-abal berharga murah saja yang berbahaya, krim dokter dan klinik kecantikan yang mahal pun banyak juga yang mengandung bahan berbahaya. Salah satu bahan berbahaya yang banyak terkandung dalam krim kecantikan adalah Kortikosteroid atau lebih dikenal sebagai steroid.

Gambar

 

Krim abal-abal

Kortikosteroid merupakan hormone  yang disintesis dari korteks adrenal yang berasal dari kolesterol. Hormone ini sebenarnya mengacu pada glukokortikoid dan mineralokortikoid, namun dalam penggunaan sehari-hari lebih banyak mengacu pada glukortikoid saja. Fungsi asli hormone ini adalah sebagai anti inflamasi dan proses glukoneogenesis. Efek anti inflamasi ini yang dimanfaatkan dalam kosmetik sebagai pencegah terjadinya jerawat.

Namun sebenarnya obat ini mempunyai efek samping yaitu penurunan sistem imun dan hambatan proliferasi lapisan epidermis kulit, sehingga kulit yang diberi kosmetik yang mengandung kortikosteroid tampak lebih halus dan putih. Penggunaan krim yang mengandung kortikosteroid dalam jangka lama menyebabkan kulit menipis sehingga pembuluh darah yang halus dapat terlihat dipermukaan kulit. Sementara penghentian penggunaan krim bersteroid secara tiba-tiba dapat menimbulkan jerawat yang lebih parah dan untuk mengobatinya banyak pemakai yang terpaksa memakai kembali krim bersteroid dengan dosis yang lebih tinggi dan akhirnya menimbulkan ketergantungan. Selain munculnya jerawat, efek lain yang dapat timbul antara lain:

1. ATROFI (kulit lisut / menipis), 
2. STRIAE ATROFISE (garis2 seperti stretchmar
k)
3. TELANGIECTASIA (pelebaran kapiler pembuluh darah, tampak seperti `urat`2 halus di kulit), 
4. PURPURA (bercak merah speperti gigitan nyamuk namun lebih merah), 
5. DERMATOSIS AKNEIFORMIS (kelainan kulit menyerupai jerawat), 
6. HIPERTRIKOSIS (pertumbuhan rambut / bulu2 di kulit semakin banyak), 
7. HIPOPIGMENTASI (bercak putih pada kulit), 
8. DERMATITS PERIORAL (peradangan kulit sekitar mulut), 
9. KULIT RENTAN INFEKSI JAMUR / BAKTERI / VIRUS, dsb. (steroid menurunkan kekebalan, sehingga kulit jadi rentan terkena virus).

 

 

Gambar

Dermatitis

Untuk dapat lepas dari ketergantungan krim bersteroid diperlukan kesabaran dan keikhlasan karena munculnya jerawat parah pada tahap penghentian penggunaan krim bersteroid umumnya tidak dapat dihindari. Namun seiring berjalannya waktu kulit akan kembali normal walaupun mungkin akan terlihat sedikit kusam dan tidak secantik saat masih menggunakan krim bersteroid.

Jadi bijaklah dalam mengambil keputusan. Jangan sembarangan mempertaruhkan kesehatan demi kecantikan dengan krim-krim berbahaya. Alangkah lebih baik jika kita merawat kulit dengan cara alami dengan skincare terpercaya yang terbukti aman dan bersertifikat BPOM.

 

Gambar